Setelah melewati para penjaga,  Lynx tiba di sebuah jalan rahasia yang dulu digunakan untuk menyelamatkan para tahanan. Namun, jalan itu telah ditutup oleh tanah dan batu.

"Jalan ini sudah mereka temukan," gumam Lynx. Ia menggunakan kemampuan tembus pandangnya untuk memeriksa kondisi lorong di bawahnya. Meski tertutup dari luar, lorong itu masih ada.

Lynx mengeluarkan tombak dari cincin penyimpanannya, lalu menentukan sudut yang tepat untuk mengebor tanah. Setelah membuat tanah menjadi lebih lunak dengan tusukan tombaknya, ia mengambil kuda-kuda dan menembakkan bola energi dengan kekuatan kecil. Bola energi itu menghancurkan tanah yang sudah lemah, menciptakan akses ke dalam lorong.

Ia masuk ke lorong gelap itu dengan hati-hati, tetap menggunakan kemampuan tembus pandangnya untuk mendeteksi jebakan. Ujung lorong di dalam kampung juga telah tertutup oleh batu-batu besar, tetapi Lynx berhasil membukanya dengan cara yang sama.

Saat memasuki kampung perampok, ia menyadari bahwa tempat itu terlihat lebih kosong dari biasanya. Tidak ada tahanan, dan jumlah perampok yang berjaga hanya sedikit.

Dari dalam salah satu bangunan, terdengar suara para perampok yang sedang berbincang.

"Kapan orang itu datang? Sudah terlalu lama kita menunggunya," kata salah satu dari mereka.

"Aku sudah tidak sabar menikmati para wanita yang kita tangkap sebelum mereka diserahkan ke Monrest," jawab yang lain sambil terkekeh. "Karena dia, semua tahanan dibawa ke jurang sebagai jebakan."

Lynx menguping dengan saksama. Setelah mendapatkan cukup informasi, ia segera meninggalkan kampung dengan cepat, menuju jurang yang disebutkan para perampok.

Setibanya di jurang, Lynx berhenti di kejauhan untuk mengamati. Tebing-tebing curam menjulang di kedua sisi, mengapit jurang yang dalam. Di atas jurang itu, beberapa penduduk diikat di ujung balok kayu panjang yang melintang, hanya ditahan oleh tali kecil.

Di seberang jurang, ada kerangkeng kayu besar berisi puluhan orang. Sebagian menangis, sementara yang lain terlihat lemah dan putus asa. Di sekitar kerangkeng itu, berserakan kayu-kayu kering, jelas dipersiapkan untuk membakar mereka hidup-hidup.

Anak buah Kronar berjaga di sekeliling, santai tapi tetap waspada. Didekat mereka terdapat beberapa orang terikat. Di tengah kerumunan, berdiri Kronar sendiri, seorang pria besar dengan senyum dingin terpampang di wajahnya. Matanya menatap penduduk yang diikat di atas jurang dengan tatapan puas.

"Mereka sangat siap kali ini," pikir Lynx sambil memperhatikan sekeliling.

"Pemimpin, sampai kapan kita menunggu?" salah satu perampok bertanya sambil menyerahkan buah kepada Kronar.

"Dia pasti datang," jawab Kronar sambil tertawa. "Semakin lama dia datang, semakin besar penderitaan yang akan dialami penduduk ini. Jika dia tidak muncul, mereka semua akan mati satu per satu."

Kronar kemudian berteriak dengan suara menggema ke seluruh jurang. "Lynx! Aku tahu kau pasti datang. Jika kau tidak segera datang, mereka semua akan mati, dan itu semua adalah salahmu. Aku akan mulai menjatuhkan mereka satu per satu, sambil menunggumu!"

Dari tempatnya bersembunyi, Lynx menarik napas panjang, memeriksa cincin penyimpanannya. Beberapa alat yang mungkin bisa membantunya ada di sana, tetapi jumlah musuh terlalu banyak untuk dihadapi secara langsung. Ia harus menemukan cara untuk menyelamatkan para tahanan dan menghentikan Kronar tanpa merugikan penduduk.

"Aku harus berpikir cepat. Mereka tidak punya banyak waktu," batinnya sambil mengamati lokasi untuk mencari peluang.

***

Sementara itu, Leena mengikuti Banu melewati jalan setapak yang asing baginya. Kecurigaannya semakin besar ketika Banu berkata, “Jalur ini adalah tempat Gahara masuk. Kami bertarung di dekat sini.” Namun saat melewatinya, Leena tidak menemukan bekas pertarungan ditempat tersebut.

Ketika mereka tiba di sebuah tempat terbuka, Gahara sudah menunggu. Aliah terikat, mulutnya disumpal kain, dan tubuhnya tergeletak di kaki Gahara. Lelaki itu tersenyum sinis.

“Leena,” katanya dengan nada rendah. “Senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu.”

Leena menatapnya tajam. “Lepaskan Aliah! Dasar pengkhianat!” serunya dengan amarah menggelegak.

Gahara tertawa kecil. "Jadi kamu mengenaliku, ya?" Ia menendang tubuh Aliah dengan santai, membuat perempuan itu mengerang pelan menahan rasa sakit. Matanya sayu, tapi masih hidup.

“Dia aman... untuk sekarang,” kata Gahara dingin, penuh ancaman.

“Kenapa kamu melakukan semua ini? Sebagai suku Yaksa, seharusnya kamu menjaga mereka, bukan mengkhianati dengan menyerahkan mereka untuk dikorbankan,” kata Leena dengan nada marah.

“Ini semua karena ulah kekasihmu,” balas Gahara dengan geram. “Dia merusak semua rencana yang sudah kususun bertahun-tahun! Semua keluargaku juga mati karena tidak sanggup menanggung malu yang diakibatkan kekasihmu.”

“Kamu gila, mereka mati karena perbuatanmu. Kamu tidak akan keluar dari tempat ini hidup-hidup. Lepaskan Aliah sekarang juga, dan aku akan melepaskanmu,” ancam Leena sambil mengarahkan ujung pedangnya ke Gahara.

Mata Gahara terpaku pada pedang itu. Sebelumnya, ia merasa senjata Lynx adalah yang terhebat. Namun, pedang yang dibawa Leena tampak jauh lebih luar biasa. Selama bersembunyi di Kampung Surya, Gahara mempelajari berbagai senjata dan peralatan mereka. Ia tahu mereka menggunakan bijih besi dari tambang yang kini telah runtuh. Tetapi pedang ini berbeda—dengan ukiran rumit yang tak pernah dilihatnya sebelumnya.

“Dari mana mereka mendapatkan senjata-senjata ini?” batin Gahara.

Namun tiba-tiba, Leena merasakan bahaya dari belakang.

Banu, yang sejak tadi memperhatikan, melihat kesempatan. Diam-diam, ia mengeluarkan pisau besi hasil buatannya sendiri.

“Matilah kau, Leena! Rasakan ini!” pikir Banu sambil bergerak cepat menusukkan pisaunya ke punggung Leena.

Tapi Leena, yang sudah curiga pada Banu, segera bereaksi. Dengan gerakan gesit, ia berbalik ke samping, menghindari tusukan, lalu mengayunkan pedangnya. Dalam sekejap, pedangnya menebas tangan kanan Banu hingga putus.

“AAARRRGGHH!!” jerit Banu, darah mengucur deras dari lengannya yang terpotong.

“Beraninya kau mengkhianatiku, Banu?” bentak Leena, suaranya dingin dan penuh amarah.

Banu meringis kesakitan. Wajahnya memerah oleh rasa sakit dan kebencian. “Aku tidak mengkhianatimu! Aku hanya ingin Lynx menderita seperti aku! Dia sudah menghancurkan rencanaku menguasai Suku Raksa!”

“Itu semua salahmu sendiri. Kamu tidak pantas memimpin Suku Raksa!” bentak Leena lagi.

“Dasar wanita berengsek! Kau harus mati!” teriak Banu, mengambil pisaunya dengan tangan yang tersisa dan mencoba menyerang Leena. Tapi Leena dengan mudah menghindar dan menendangnya keras hingga tubuh Banu terlempar, menghantam pohon di belakangnya.

Gahara, yang menyaksikan adegan itu, tampak terkejut. Ia tidak menyangka Leena sekuat itu. Pandangannya kembali tertuju pada pedang di tangan Leena, yang tampak memancarkan aura kuat.

“Berhenti! Serahkan pedang itu padaku,” kata Gahara, suaranya penuh keserakahan. “Atau aku akan membunuh wanita ini.”

Gahara menginjak tubuh Aliah lebih keras. Perempuan itu menggeliat, suara rintihannya terdengar samar dari balik penutup mulutnya.

Leena memandang Gahara dan Aliah yang terikat. Setelah berpikir sejenak, dia melemparkan pedangnya ke arah Gahara. "Sekarang lepaskan dia!" serunya dengan nada tegas.

"Dasar bodoh," ejek Gahara sambil menarik Aliah yang masih terikat mendekat ke pedang yang dilemparkan Leena. Dengan gerakan cepat, dia meraih pedang itu.

Gahara menatap ukiran halus pada bilah pedang yang memancarkan kilauan redup. “Pedang ini luar biasa,” gumamnya penuh kekaguman. Dia mengayunkannya perlahan, menguji keseimbangan dan kekuatannya.

Di sisi lain, Banu yang masih memegangi lengan kanannya yang buntung tersenyum dingin. “Gahara, bunuh dia. Pastikan dia tidak kembali ke kampung.”

Gahara mendongak, menatap Leena yang sudah memasang kuda-kuda. “Tentu saja. Aku akan memulai dengan dia.” Namun, alih-alih menyerang Leena, Gahara memutar tubuhnya dan menusukkan pedang itu ke perut Aliah.

“Tidak!!” Teriakan Leena menggema di udara saat darah Aliah mengucur deras, membasahi tanah.

Gahara melepaskan tubuh Aliah yang terhuyung jatuh. “Dia tidak lagi berguna,” ucapnya dingin, berbalik menghadapi Leena.

Dengan kemarahan membara, Leena melesat ke arah Gahara. Belati pemberian Lynx yang disembunyikan di balik pakaian muncul di tangannya, siap untuk menyerang.

Gahara menangkis serangan Leena menggunakan pedang itu. Denting logam terdengar nyaring saat senjata mereka beradu. Leena, yang bergerak dengan kecepatan luar biasa, memaksa Gahara terus mundur. Meski begitu, pengalaman bertarung Gahara yang matang membuatnya mampu membaca setiap gerakan Leena.

